Artikel - Ketika saya mengeluhkan banyak takdir

Kenapa saya menulis fiksi padahal fiksi itu malah bikin orang memanjangkan angan.


Dua buku yang bener-bener ngasih saya titik balik adalah Self Driving-nya Prof Rhenald Kasali dan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Self Driving itu tentang Self Improvement yang ngasih saya pemahaman bahwa badan itu hanya kendaraan dimana drivernya adalah hati kita dan pikiran kita. Sementara novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu ngasih saya penjelasan tentang takdir.
inspirasi
Inspirasi

Dulu ada yang pernah nanya ke saya, kenapa saya menulis fiksi padahal fiksi itu malah bikin orang memanjangkan angan. Saya lupa ngejawab pertanyaan tersebut dan sekarang saya jawab bahwa cerita fiksi bisa menjadi media untuk mengejawantahkan penjelasan tentang ayat-ayatNya yang sulit kita tangkap.
Seperti novel Ketika Cinta Bertasbih nya kang abik yang banyak ngasih penjelasan ke temen saya bahwa menikah lewat jalan ta’aruf nggak se-menakutkan yang dipikirkan orang. Seperti Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang menjawab banyak sekali pertanyaan saya tentang hidup dan takdir.

Allah itu Maha Tahu. Dia yang menciptakan kita dengan sebaik-baik perhitungan. Setiap kali saya membaca Al Qur’an dan sampai pada surat Al Baqoroh ayat 30 atau Al Furqon ayat 2, saya beristighfar sebanyak-banyaknya atas tindakan saya di masa lalu yang kurang bersyukur. 
Di kehidupan saya, ada banyak hal yang saya usahakan justeru gagal tercapai. Sementara di sisi lain, ada juga banyak hal yang tidak saya usahakan sama sekali, tapi Allah yang seolah mendatangkan hal tersebut kepada saya.
Ketika saya mengeluhkan banyak takdir dan kepala saya meng-generate banyak pertanyaan seperti:
“Kenapa saya harus masuk Teknik Informatika? padahal saya sebenarnya belajar keras untuk masuk Ilmu Komunikasi”
“Kenapa saya harus masuk bertahan di kampus saya yang sekarang? padahal saya sebenarnya belajar keras untuk melanjutkan PhD”
“Kenapa saya harus jadi dosen padahal cita-cita saya yang paling besar adalah menjadi jurnalis”
“Kenapa saya harus lahir dengan kaki yang kalau diajak berlari sedikit saja langsung bengkak lututnya dan sakit banget kalo napak? Padahal orang bekerja mestinya lincah berlari?”
“Kenapa saya harus lahir dengan hanya satu mata yang berfungsi? Padahal di dunia yang materialistis ini banyak orang yang menilai orang lain dari fisiknya saja?”
“Kenapa sewaktu SMP dan SMA dulu saya selalu menjadi yang tak diperhitungkan, hadirnya nggak disadari dan hilangnyapun nggak dicari?”
tapi setelah saya menoleh ke belakang, saya jadi belajar begitu banyak hal. IPK saya pas S1 emang pas-pasan, saya bukan cumlauder tapi pas S1 dulu saya sempet sebentar merasakan terjun di dunia jurnalistik. Dunia yang saya inginkan tapi saya nggak ditakdirkan untuk ke sana dalam waktu yang lama. Saya juga sempet belajar tentang Data Mining yang saya sukai banget meskipun pas kerja, saya malah ditakdirin ke Teknologi Game. Tapi setidaknya, belajar tentang data ngebuat saya lebih open dan lebih kritis terhadap statistik. 
In God we trust, all others must brings data.
tapi buat orang yang pernah belajar analisa data, pernyataan kayak gitu masih bisa munculin pertanyaan:
“Data yang kayak gimana? Cara samplingnya gimana? Diambilnya kapan dan bla bla bla“
Hikmah lain yang saya dapatkan dari menggeluti dunia data adalah, kita itu cuma bagian dari statistik. Umur kita itu nggak ada sepersepuluh usia peradaban. Betatapun kita ngebuat karya yang masterpiece dan dipuji oleh banyak orang, suatu saat pasti akan dilupakan. Hanya Allah yang nggak pernah melupakan kita, maka biarlah kerja-kerja ini kita tujukan kepada Allah saja. Bukan kepada yang lain.
Saya tetap mencintai dunia tulis menulis dan data mining. Tapi saya menikmati takdir yang nggak berpihak pada banyak hal yang saya cinta ~XD Dan perkara S3 yang tertunda, ada begitu banyak hikmah yang bisa diambil.
Pas saya disuruh ngajar teknologi game, saya ngerasa keteteran banget. Keteteran yang sampe menampar banget ke saya yang dulunya udah ngerasa pinter. Padahal ya sebenernya nggak pinter-pinter banget.
Dulu, saya itu orang yang perfeksionis dan nggak bisa memaklumi kesalahan orang lain. Tapi begitu saya ngajar, saya mengenal karakter mahasiswa satu persatu, mengamati mereka berproses dan semakin sadar bahwa manusia itu nggak sempurna dan nggak ada yang ideal. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus menerus memperbaiki diri. Dengan melihat itu, saya juga semakin memaklumi orang lain. Memandang bahwa kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sama sekali nggak bisa kita gunakan untuk menilai bahwa keseluruhan hidup orang tersebut itu buruk. Manusia itu abu-abu. Nggak adil kalau kita memaksakan semua menjadi hitam dan putih.
Seperti yang dibilang mbak @plainhavermutt​ mungkin Allah itu mentakdirkan kita memiliki kekurangan agar kita tidak ujub atas segala takdir yang membuat kita bahagia.
Allah nggak pernah mentakdirkan hal-hal yang buruk kepada hamba-Nya.
Dulu pas kecil, saya nggak punya temen. Tapi di lain sisi, Allah ngasih saya kesempatan untuk belajar Al Qur’an, dan ushul fiqih. Sesuatu yang amat terlambat saya syukuri.
Sayapun telah salah menilai bahwa dunia ini terlalu materialis. Saya banyak menemukan orang-orang yang tulus dan menerima saya apa adanya. Gara-gara pernah dibully, saya semakin menghargai persahabatan yang tulus dari teman-teman saya.
Masalah kaki, saya pelan-pelan melakukan treatment hingga sekarang kaki saya bisa diajak berjalan jauh. Gara-gara perkara kaki ini, saya juga semakin memahami kenapa seorang muslim harus selalu mengusahakan badan yang fit.
Dan terakhir….dari hal-hal yang saya usahakan justeru gagal tercapai sementara di sisi lain, ada juga banyak hal yang tidak saya usahakan sama sekali, tapi Allah yang seolah mendatangkan hal tersebut kepada saya….
saya semakin menyadari bahwa semua terjadi atas izin Allah, dan ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan selama ini adalah bentuk kebaikan Allah. Ikhtiar adalah sarana kita dalam mencari ridho-Nya, dan lewat ikhtiar…..kita merasakan pahit getirnya hidup sehingga kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dari waktu ke waktu.
sekarang, saya nggak merutuki takdir. Saya cuma berdoa semoga dalam setiap tour of duty yang saya jalani, saya bisa tumbuh menjadi lebih baik dan terus menerus mengingat-Nya.
Anggap saja takdir itu bentuk tarbiyah dari Allah agar kita tumbuh. Setiap masalah itu pasti ada solusinya. Setiap badai pun akan berlalu atas izin Allah. Hanya saja, setiap masalah itu akan meninggalkan bekas dalam diri kita. Dan bekas itu sangat tergantung pada bagaimana kita memandang hidup.
Mari kita sejenak menoleh ke belakang dan membuang pengandaian-pengandaian kita semacam…
“Andai gue jadi  S3, mungkin sekarang gue bisa nerbitin paper Q1 dan bla bla” belum tentu kayak gitu juga. Yang tau takdir itu Allah. Bisa jadi ada kemungkinan lain kan…. “Gue S3, ga cocok sama profesor, malah terkatung-katung dst…dst….” atau “Gue lulus S3 dengan mulus tapi endingnya gue jadi sombong dan arogan karena pribadi gue kurang matang”
orang yang membenci takdirnya akan selalu digoda setan untuk men-generate pengandaian yang indah-indah dari sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya ~XD padahal dia punya pilihan untuk sejenak menoleh ke belakang dan mencari hikmah, atau berhenti sejenak untuk melihat sekeliling dan menyadari bahwa dunianya indah tapi dia nggak sadar karena keseringan berandai-andai.
Awal dari penerimaan diri adalah berhenti berandai-andai, belajar menyadari bahwa yang kita miliki hari ini adalah sebaik-baik rezeki dari-Nya. Hidup itu cuma sebentar, rugi banget kalo semua dijalani dengan merutuki takdir.
NB: ditulis dalam rangka membagikan pengalaman berikhtiar menerima diri sendiri. Semoga bisa ngebantu temen-temen buat sedikit mundur ke belakang dan mensyukuri takdir serta menyadari bahwa bullying yang kita alami di masa kecil nggak pernah benar-benar merebut masa depan kita. Cara pandang kita yang harus dirubah. Hati kita yang harus kita tumbuhkan hari ini.


Iklan

loading...